Suatu siang saya dan tante saya habis jalan2 shopping di Pasar Baru, lalu pulanglah kami berdua ke rumah dengan naik bajaj. Barang2 kamu masukkan dan kami pun naik, dan menyebutkan tujuan kami pada supir bajaj. Baru saja pelan bajaj berjalan, sang supir sudah mengajak cerita.
Supir bajaj: bu itu tasnya jangan dicangklong dekat jendela bu, hati-hati kalau naik bajaj kadang ada pencuri yang akan siap sedia menjambret tas ibu.
Tante: oh iya pak terima kasih
Lantas tante memindahkan tasnya ke bagian tengah, terhimpit antara lengannya dan lengan saya.
Supir bajaj: sering kejadian soalnya bu, kadang penjambretnya naik motor, boncengan gitu dan kalo sudah dapat barang yang mereka inginkan mereka akan lari, ngebut pake motor mereka.
Tante: oh iya ya pak? Tante saya mendadak panik, dan malah jadi was-was. Saya juga.
Supir bajaj: malah kadang pencurinya itu sudah berkomplot dengan supir bajajnya.
Supir bajaj: Eh bu itu kok di belakang ada yang mengikuti kita ya? Nada suara supir baja berubah
GLEK?! Waduh tante makin was-was, saya pun juga dan kami berdua berpandangan. Mendadak supir bajaj membelok kearah jalan yang sepi dan memutar dari jalan seharusnya.
Saya: Loh pak kok belok sini? Lurus kan bisa pak?!
Supir bajaj: di depan macet bu, mending lewat sini.. gak macet..
Supir bajaj: Bu kayaknya kita diikutin deh , jadi mending lewat sini biar ndak kekejar.
Kata pak supir sambil melirik2 kaca spionnya. Saya jadi pucat pasi, Waduh! Apalagi tante..
Bajajnya dikemudikan makin kencang, Tiba2 telepon sang supir bajaj berbunyi, dan diangkatlah oleh si supir bajaj. Curi dengar pembicaran pak supir dia mengatakan " Barangnya udah siap, tinggal ambil"
Egh? Barang apa? Saya maupun tante ndak melihat dia bawa barang apapun di dalam bajaj itu kecuali saya dan tante dan juga barang bawaan kami. Semakin paniklah kami.. apalagi jalan yang kami lalui semakin sepi, menjauh dari keramaian. Sesekali masih tampak mobil dan motor yang lewat tapi jarang. Dan daerah yang kami lewati itu seperti taman kota, di kanan-kirinya ndak ada toko, atau warung. Kami curiga pada supir bajaj, bermaksud menghindari pengikut bajaj kami, tapi kok malah melewatkan bajajnya ke tempat yang lebih sepi? Pasti ada yang ndak beres ini!
Tante: udah kamu loncat turun ajah, bisik tante pada saya...
Kami berdua sama-sama panik dalam situasi seperti ini... Dari pada kami kena rampok atau pun jambret, mendingan kami lari menyelamatkan diri. Sebelum perampoknya datang.
Tanpa pikir panjang saya langsung mengikuti saran tante untuk melompat turun dari bajaj. Pintu saya buka dan saya pun melompat turun dari bajaj dengan kecepatan penuh itu. Jatuh saya gak bagus, dan saya sempat terseret oleh bajaj. Pipi ini menyentuh aspal cukup lama. Saya pun jatuh tersungkur. Darah di-mana-mana di pipi dan dagu saya memar sakit.
Supir bajaj pun kaget dengan kejadian itu dan mengerem bajajnya. Seketika itu juga tante saya pun meloncat turun dari bajaj. Jatuh juga dengan tersungkur namun lukanya tidak separah saya.
Segera jalanan itu menjadi ramai, mobil dan motor yang lewat situ berhenti menolong maupun melihat. Kerumunan orang dating menghampiri saya dan tante.
Seorang pria: Dek kenapa loncat dari bajaj dek?
Saya seperti orang ketenggengan, syok, bingung mau jawab apa. Sementara luka bercucuran.
Supir bajaj menghentikan bajajnya dan tergopoh2 mendatangi kami berdua.
Supir bajaj: aduh ibu kenapa tiba2 loncat turun? Bilang dong bu kalau mau turun. Biar bajajnya saya hentikan dulu..
Akhirnya kamu berdua di bawa kerumah sakit, dan dirawat. Saya harus cukup lama menyembuhkan luka di wajah saya.
Sampai sekarang kami gak tahu, apakah pencuri bermotor itu ada atau tidak, apakah supir bajaj ini berkomplot dengan mereka atau tidak. Saya dan tante Cuma berpikir untuk menyelamatkan diri saya. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
--------------------------------------------------------------------------------------
Ini kisah yang saya tulis ulang. Berdasarkan kejadian nyata yang dialami teman saya. Yah memang kejahatannya tidak terjadi dan tidak terlaksana. Namun saya jadi berpikir, benarkan supir bajajnya ikut terlibat? Benarkah ada pencuri yang mengikuti itu? Maksud hati ingin menolong diri sendiri dari kejahatan malah harus masuk rumah sakit dan mengalami sakit yang tidak ringan.
Kadang saya bingung, pikiran-pikiran buruk ini mudah sekali mepengaruhi kita. Menyimpulkan segala sesuatunya dengan negative tanpa tahu kebenarannya. Lho? Tapi dari pada terjadi apa2 kan lebih baik waspada tho? Iya juga sihhh itu gak salah juga. Apalagi kalo korbannya ialah perempuan, wajib jaga diri. Ah jadi serba salah, harusnya itu bagaimana tho? Apalagi Jakarta, dimana segala kemungkinan kejahatan terjadi, naik bajaj, naik motor, naik, bus, naik taksi, bahkan mobil pribadi sekalipun!
Kalau menurut kalian gimana?
(Lihat foto: Pengalaman Naik Bajaj)
Artikel ini memiliki: 26 Komentar • Nggemesin +7